Tips Dapur

Mengapa Anak Suka Pilih-Pilih Makanan? Ini Jawaban dan Solusinya

Semua orangtua pasti pernah mengalami hal ini. Si kecil yang hanya ingin makan gorengan, dan sayur yang disiapkan tak dimakan. Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi orangtua. Mengapa bisa terjadi, dan bagaimana cara mengatasinya?

Pilih-pilih makanan atau biasa disebut picky eater, memang cukup merepotkan bagi orangtua. Sudah disiapkan berbagai macam makanan lezat, namun si kecil tak mau melahapnya. Hanya sekali dua kali saja. Selanjutnya, melirik saja tidak. Situasi ini tentu membingungkan.
Agar tak miskonsepsi, kondisi yang jamak terjadi pada anak usia 2-4 tahun ini dibedakan jadi dua, picky eater dan selective.

Baca juga: 8 Anak Seleb Indonesia yang Gayanya Kece Abis

Picky eater merupakan kondisi di mana anak mau mencoba berbagai macam makanan, namun sayangnya dikonsumsi dalam porsi yang sangat sedikit. Setelah itu tidak mau.

Contohnya, anak mau mencoba telur goreng (sumber protein) dengan nasi (karbohidrat). Lain waktu ayam goreng yang dipadukan dengan kentang. Berarti anak tertarik dengan serba goreng. Kuncinya, picky eater adalah anak mau mencoba.

Beda dengan selective eater, di mana anak hanya mau satu makanan jenis tertentu. Contohnya, tidak mau segala jenis karbohidrat (baik itu kentang, roti, nasi) atau protein hewani (ikan, ayam. daging, telur).

Baca juga: Ini Cara Titi Kamal Didik Anak, Mulai Bertutur Hingga Urusan Agama

Menurut Dr. dr. Dian Pratamastuti, Sp.A, kondisi ini tentu berdampak buruk bagi si kecil. Pasalnya anak bisa kekurangan nutrisi makronutrien yang diperlukan tubuh.

”Anak mudah terserang penyakit, sistem imunnya berkurang, dan tentu saja berat badannya turun,” ujar dokter spesialis anak ini saat ditemui redaksi KOKI pada Jumat, (30/11).

Menurut penelitian, salah satu alasan mengapa anak pilih-pilih makan adalah kesalahan dari orangtua sejak awal, karena tak mengenalkan berbagai jenis makanan.

”Orangtua sudah harus mengenalkan berbagai jenis makanan sejak dalam kandungan. Sehingga air ketuban itu rasanya sayur, daging, buah-buahan,” ungkap dokter yang juga konselor ASI dan menyusui ini.

Baca juga: Restoran Unik! Lost Kitchen Hanya Terima Reservasi Melalui Kartu Pos

Dengan usia anak di bawah 5 tahun, mereka menginginkan rasa manis dan asin. Bila disediakan makanan terbatas itu-itu saja, anak mudah sekali bosan.

”Tidak bisa diberikan daging kuah melulu, atau puree saja saat MPASI. Jangankan anak-anak, orang dewasa juga pasti bosan,” tambahnya.

Tetap Mencoba

Banyak sekali pertanyaan, bagaimana cara mencegah hal itu, dan dr. Dian punya jawabannya.

”Sebelum anak diberikan makanan pendamping ASI, sebaiknya konsultasi dulu dengan para ahli saat bayi berusia lima bulan. Kemudian saat anak berusia enam bulan, berikan makanan buatan rumah, menu empat bintang. Terdiri dari karbohidrat, protein hewani, nabati, buah, dan sayuran. Ini harus dikenalkan setiap hari,” ungkapnya.

Baca juga: 8 F&B yang Tak Boleh Dikonsumsi Bersama Obat

Namun bila kondisi saat ini anak suka pilih-pilih makanan, maka orangtua harus kreatif, sabar, dan berbesar hati.

”Memang harus sabar ya, saat anak rewel makan. Apalagi sudah dibuatkan ternyata tak dimakan. Nah, ketika mengenalkan jenis-jenis makanan, dibutuhkan 10-15x percobaan untuk satu menu. Porsinya sedikit saja, dan lakukan secara bertahap,” ujarnya sambil menambahkan, bahwa anak yang mengalami gangguan kebiasaan ini bisa bertahan hingga dewasa. Tentu dampaknya buruk bagi tumbuh kembang si kecil.

Foto: Pinterest

Sebagai Panutan

Untuk memperbaiki kondisi ini, dr. Dian mengatakan bahwa faktor lingkungan sangat berpengaruh. Utamanya di dalam rumah sebagai lingkaran pertama. Di mana orangtua merupakan figur percontohan, atau panutan untuk anak-anak.

Bila Anda tak suka sayur, otomatis anak juga tak suka. Untuk itu perlu sedikit berakting. ”Ketika makan di depan anak, biarkan anak melihat Anda begitu menikmati sayur dan buah. Jelaskan manfaat-manfaat sayur dan buah secara sederhana. Misalnya, makan sayur membuat rambut lembut dan tubuh tak mudah sakit,” ungkap ibu tiga anak ini panjang lebar.

Baca juga: 7 Tips Agar Diet tak Lagi Menjemukan!

Lama-kelamaan, si kecil ingin mencoba karena melihat orangtuanya lahap mengonsumsi buah dan sayur. Karena tiap anak itu unik, hindari memaksa mereka makan.

”Kalau tidak mau makan nasi (sebagai sumber karbohidrat), masih ada roti, kentang. Bisa juga sereal dikasih susu. Tidak apa-apa,” kata dr. Dian yang menyarankan agar anak diberikan pujian, saat lahap dengan makanannya.

Pendampingan

Lalu bagaimana dengan orangtua yang bekerja? Masih bisakah mendampingi anak saat makan? Jawabannya, bisa. Namun dr. Dian mengingatkan, agar ada salah satu pihak di rumah yang bisa dipercaya, untuk memberikan asupan bergizi pada anak.

”Minta tolong pada pendampingnya anak, yang peduli dengan tumbuh kembangnya. Seseorang yang biasanya memberikan anak makan. Boleh dengan babysitter, namun ajari juga setiap berapa jam sekali mengajak anak makan. Kemudian satu jam sekali mengenalkan sajian lain,” jelasnya.

Baca juga: Menyimak Kiat Bugar Ratu Elizabeth II di Usia Senja

Selain itu saat makan, hindari memberikan anak gadget atau nonton televisi. Hal ini dimaksudkan, agar anak fokus dengan makanannya.

”Sebaiknya ajak anak melakukan aktivitas secara langsung, misal bersepeda di taman, atau sekedar jalan-jalan. Biar makanan cepat habis, tidak tertahan dalam mulut,” ujar dokter penggemar traveling ini.

”Bila sudah begitu, jangan lupa konsultasi juga dengan dokter agar tahu langkah-langkah selanjutnya mengatasi anak picky eater,” pungkas dr. Dian. (*)

Tags
Show More
Back to top button
Close