cara diet yang salah
Foto: picsunday.com
Diet

Salah Kaprah! Bukannya Kurus, 5 Cara Diet Ini Nyatanya Berbahaya

162views

Keinginan mendapatkan bentuk tubuh ideal, membuat sebagian orang melakukan berbagai cara. Termasuk cara diet yang salah. Alih-alih tubuh sehat nan langsing, yang terjadi malah sebaliknya.

Beberapa cara diet yang salah, disebutkan oleh dr. Hidayat Wiriantono, M. Kes., DFN., SpGK ketika ditemui redaksi KOKI Plus. Salah satu dokter ahli gizi ternama di Surabaya ini mengungkapkan, beberapa cara diet berbahaya yang masih sering dilakukan sebagian besar masyarakat. Ini di antaranya:

Minum Obat Pencahar

Seringkali obat pencahar menjadi jalan pintas bagi sebagian orang, untuk mengeluarkan isi pencernaan. Kebiasaan ini berdampak pada kinerja usus dalam mengolah kotoran untuk dikeluarkan. Pasalnya, usus yang sebelumnya dapat berkontraksi tanpa adanya obat pencahar, menjadi bekerja lebih ekstra.

”Secara normal usus itu dapat berkontraksi untuk mengeluarkan kotoran tanpa bantuan pencahar. Kalau dibiasakan minum pencahar, kontraksi usus meningkat. Sehingga kalau suatu ketika tidak minum pencahar, usus kita jadi lemah,” ungkap dr Hidayat. Selain itu dirinya juga menambahkan, bahwa obat pencahar cenderung mengeluarkan cairan dalam tubuh. Dengan kata lain, obat pencahar tidak dianjurkan untuk dikonsumsi dalam jangka waktu lama.

Anti Karbohidrat

Karbohidrat merupakan salah satu nutrisi yang paling dibutuhkan oleh manusia. Menurut dr Hidayat, karbohidrat adalah sumber energi yang pertama kali dipakai oleh tubuh. Namun sayangnya, sejumlah orang masih menganggap bahwa karbohidrat menjadi salah satu faktor utama penyebab bertambahnya berat badan.

Hal ini tidak jarang memotivasi sebagian masyarakat, untuk tidak mengonsumsi makanan mengandung karbohidrat. Sebut saja seperti nasi, mie, dan makanan karbo lainnya. Namun hal ini justru membahayakan tubuh.

”Kalau tidak ada karbohidrat, maka yang diambil sebagai penggantinya adalah protein pada otot. Akibatnya, otot kita jadi mengecil dan liver pun juga akan mengerut,” ujar dr Hidayat.

Selain itu, resiko lain juga terjadi pada sel-sel otak. Apabila lemak pada sel-sel otak diambil secara terus menerus sebagai pengganti sumber energi, maka kemungkinan kerusakan sel-sel otak pun semakin meningkat.

Oleh sebab itu mengonsumsi nasi sebagai sumber karbohidrat masih tetap dianjurkan.

”Nasi itu jangan ditakuti. Ya, kalau dikurangi boleh, asal jangan sampai ekstrim atau bahkan tidak ada sama sekali,” imbuhnya.

Hanya Makan Sayur dan Buah

Ini adalah versi diet ekstrem lainnya. Menurut dr Hidayat, dirinya masih seringkali menemukan sebagian orang yang hanya mengonsumsi sayur dan buah. Tidak hanya menghilangkan asupan nasi sebagai sumber karbohidrat, melainkan juga lauk pauk yang kaya nutrisi penting lainnya. Diet ekstrem semacam ini berakibat pada tidak seimbangnya gizi dalam tubuh.

”Berat badan ya pasti turun, tapi tidak ada regenerasi sel sehingga lebih berbahaya,” ujar dokter  lulusan Magister Gizi Universitas Airlangga tersebut.

dr Hidayat juga menambahkan, dalam satu kali porsi makanan harus mencukupi kebutuhan nutrisi berupa karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral. Sehingga apabila setiap harinya tidak ada konsumsi sumber makanan selain sayur dan buah, maka kebutuhan nutrisi dalam tubuh tidak akan seimbang. Risiko berbagai penyakit pun semakin meningkat.

Begadang

Terlalu fokus mengontrol makanan, beberapa orang malah mengesampingkan jam tidur malam. Padahal, kualitas tidur seseorang berpengaruh pada kesuksesan program dietnya.

dr Hidayat menyebutkan, jika seseorang tidur terlalu larut malam, tubuh tidak dapat istirahat secara maksimal. Jika esoknya hendak berolahraga, tubuh tidak dapat melakukan rutinitas olahraga dengan optimal.

Selain itu, dr Hidayat juga menyinggung adanya hormon dalam tubuh yang muncul ketika di malam hari.

”Tidak baik jika tidur terlalu malam. Karena pada saat jam 10 malam, terdapat hormon ghrelin yang membuat kita lapar,” imbuhnya.

Sehingga sangat dianjurkan untuk tidak tidur terlalu larut, agar tidak dihantui rasa lapar di malam hari.

Skip Makan Malam

Melewatkan makan malam memang tidak sepenuhnya salah. Namun alangkah baiknya, jika kamu tetap memperhatikan jam makan malam.

Menurut dr Hidayat, jam makan malam bisa ditentukan dari kapan terakhir kali kamu makan, ”kalau terakhir kali makannya pas masih siang, ya tidak baik. Karena perut terlalu lama kosong.”

Selain itu, menurutnya saat yang tepat untuk terakhir kali makan malam adalah tiga jam sebelum tidur. Rentan waktu tersebut, memberikan waktu bagi pencernaan agar dapat memproses makanan sebelum tidur. (*/rez)